Hilangnya Image Jogja sebagai Kota Budaya

Yogyakarta- Menurunnya minat remaja Jogja dalam mengapresiasi budaya jawa ditengarai oleh tidak adanya toleransi terhadap adat istiadat. Semua berawal dari kebiasaan, dan kini ditinggalkan karena kebiasaan.

“Tak ada bahasa krama, tahu pun tidak”, Setidaknya kata-kata itulah yang terlontar dari Dinda gadis kelahiran jogja 26 September ini. Gadis asli Jogja ini mengaku bahwa dari kecil dirinya memang tak terbiasa menggunakan bahasa jawa, apalagi bahasa jawa kromo. Meskipun berasal dari Jogja gadis ini sempat berpindah dan menetap di Bekasi selama 1tahun. Hal inilah yang akhrinya membuat dirinya tak terbiasa berkomunikasi dengan bahasa jawa. “Sebenarnya sedih, tapi kan masih bisa bahasa Inggris, Jerman. Lagi pula cita-cita aku kan keluar negeri” pungkasnya saat ditanyakan lebih lanjut mengenai kemampuan berbahasa daerah. Anehnya lagi ketika ada momen bersama keluarga besar hanya dirinya yang tidak mampu bersosialisasi. Bahkan ketika saat neneknya berbicara, meskipun mengerti dirinya hanya menjawab sebisanya dengan bahasa Indonesia. Orangtua dinda juga mengatakan bahwa sejak kecil memang tidak diajarkan bahasa Jawa secara resmi. “Cuma percakapan saya sama papanya saja, kalo ke dinda saya pakai bahasa Indonesia” ujar Ibunda dinda. Meskipun disekolah telah diajarkan, tetapi Dinda mengakui jika bahasa Jawa adalah bahasa yang tidak mudah. Perlu pemahaman dan latihan disetiap kesempatan agar bisa terbiasa.

Berbeda dengan orang tua dari Nyimas yang sejak kecil telah menanamkan pentingnya budaya berbahasa Jawa, saat ini Nyimas mampu menggunakan bahasa jawa kromo (halus) dan paham akan arti budaya jawa itu sendiri. “Kalo aku asalkan sesama orang Jawa, aku pasti pake bahasa Jawa. Tetapi kadang harus bisa nyesuaiin sih, kalo sama temen-temen dari luar jawa gapapa pake bahasa Indonesia, nanti aku ajari dikit-dikit (bahasa Jawa)” ungkapnya bangga. Sama-sama kelahiran Jogja, tetapi kedua gadis yang duduk di bangku SMA ini memiliki pola fikir yang berbeda. Begitu pula dengan kecemasan Nyimas ketika ditanyai mengenai slogan Jogja Istimewa.  Dirinya mengaku bahwa keistimewaan itu berada di tiap-tiap orang Jogja. Karena ketika kita melihat Keraton, tak jarang saat ini telah beralih fungsi sebagai tempat konser dangdut dan lainnya. “Jadi keistimmewaan ya kita yang bawa, kalo kita gabisa bahasa Jawa,  Jogja gak akan seistimewa sekarang dong?” Pungkas Nyimas saat ditemui di kawasan Condong Catur.

Jogja memang selalu istimewa tetapi budaya tentu harus selalu dijaga. Semua berawal dari kebiasaan, dan jangan sampai ditinggalkan karena kebiasaan tidak berbahasa Jawa. (Tifani Octavia )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: