Pak Ogah, Membantu atau menyusahkan?

Jumlah kendaraan di Yogyakarta setiap tahunnya mengalami peningkatan. Kenaikan jumlah kendaraan ini tidak hanya disebabkan oleh warga lokal saja, melainkan juga banyak pendatang terutama mahasiswa yang membawa kendaraan pribadi dari daerahnya. Jumlah kendaraan yang bertambah dan tidak diiringi dengan fasilitas-fasilitas jalanan yang memadai, serta kurangnya aparat kepolisian yang mengatur lalu lintas membuat kemacetan terjadi di ruas-ruas jalan Kota Pelajar.

Kurangnya aparat kepolisian dalam mengatur lalu lintas, membuat hal ini dimanfaatkan oleh beberapa orang yang mengatur lalu lintas secara tidak resmi. Pak Ogah adalah sebutan untuk relawan jalanan di perempatan atau pertigaan jalan yang tidak memiliki lampu apil, membantu pengguna jalan dalam mengurangi arus kemacetan. “ Saya jadi Pak Ogah ini ikhlas membantu, tidak mau maksa agar di beri uang” papar Naryo yang sudah empat tahun lebih bekerja menjadi seorang Pak Ogah. Naryo mulai bekerja dari jam delapan pagi setelah polisi selesai bertugas sampai sore hari. Sebelum menjadi Pak Ogah, Naryo pernah bekerja sebagai calo tiket sepak bola. Kecilnya pendapatan membuat Naryo tertarik untuk menjadi Pak Ogah. Naryo juga mengharapkan ada organisasi yang menjadi payung hukum untuk Pak Ogah, agar pekerjaan ini lebih terorganisir dan bisa memiliki perlindungan hukum.

Namun sayang, di tengah niat baik Pak Ogah untuk membantu pengguna jalan di cemarkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan cara memaksa atau mengancam akan merusak mobil pengguna jalan jika tidak diberi uang. Kelakuan oknum Pak Ogah yang tidak bertanggung jawab membuat polisi melakukan operasi pekat ( penyakit masyarakat ) untuk merazia Pak Ogah jalanan yang cenderung menjadi preman. “ Pak Ogah yang meresahkan masyarakat akan kami tangkap dan dibawa ke polsek untuk membuat surat pernyataan di atas materai agar tidak mengulangi perbuatannya lagi serta dikenakan wajib lapor apel senin dan kamis sampai waktu yang di tentukan” tutur Yustika sebagai Polantas.

” Bagi saya dengan adanya Pak Ogah itu sangat membantu, apalagi di jalan-jalan yang ramai. Semua orang ingin duluan dan tidak ada yang mau mengalah” ungkap Beni seorang pengguna jalan. Ia juga berharap tidak ada lagi Pak Ogah yang memaksa atau sampai mengancam pengguna jalan, lebih baik lagi jika polisi dapat meningkatkan kinerjanya dalam mengantur lalu lintas dan tidak perlu ada campur tangan dari masyarakat.  ( Widya Iga Kusuma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: