Menggerakan Topeng Agar Tetap Hidup

Topeng salah satu bentuk ekspresi paling tua yang diciptakan peradaban manusia. Sebagian masyarakat menganggap topeng menyimpan nilai-nilai magis dan suci, tak jarang topeng digunakan sebagai simbol khusus dalam berbagai upacara dan kegiatan adat. Saat ini topeng ditempatkan sebagai salah satu karya seni yang bernilai, karena pada dasarnya topeng sendiri memiliki estetika yang tinggi dan juga mempunyai  sisi misteri dalam setiap bentuknya.

Di Indonesia topeng sangat erat kaitannya dengan tarian, tarian yang menggunakan topeng menjadi bentuk penceritaan kembali cerita kuno dari para leluhur. Cerita Ramayana dan Panji menjadi inspirasi utama dalam penciptaan topeng di Jawa. Hampir di setiap daerah Indonesia memiliki tarian dengan menggunakan topeng, seperti Tari Topeng Menor dari Subang, Tari Hudog dari Dayak, Tari Topeng dari Malang, Tari Rancak Denok dari Semarang dan masih banyak lagi yang tentu saja memperkaya budaya Indonesia. 

Namun sayang, tarian topeng di beberapa daerah sudah mulai ditinggalkan. Tarian topeng telah kehilangan pewaris, generasi muda yang mulai terbawa arus modernisasi lebih tertarik untuk mengenal dan mempertontonkan budaya yang lebih modern, begitu juga dengan tari. Akibatnya pertunjukan tarian topeng sudah jarang digelar. Topeng sendiri sudah berahli fungsi menjadi pajangan dalam rumah. Hal ini menyebabkan banyak seniman topeng yang merubah ahli profesinya sehingga topeng sendiri mulai jarang terlihat.

Kesadaran kita sebagai masyarakat Indonesia yang berbudaya sangat diperlukan dalam melestarikan tari topeng. Banyak cara untuk melestarikan tarian ini, salah satunya pagelaran seni yang dihelat oleh Taman Budaya Yogyakarta, dengan mengadakan festival tahunan seni drama dan tari yang mengangkat kembali cerita Topeng Etos Panji dengan mensyaratkan penari wajib mengenakan topeng.

Tri Anggoro, salah satu pelatih tari lulusan Institusi Seni Indonesia ( ISI ) mengatakan bahwa sudah lama cerita topeng tidak di munculkan lagi, biasanya cerita ramayana, babat, mahabrata dan cerita daerah saja. “ Teman-teman sekarang sudah jarang menarikan tari topeng, menari menggunakan topeng tak semudah yang dilihat. Ketika orang menari dengan topeng, orang tersebut seperti menari sambil memejamkan mata dan gak bisa lihat kanan kiri ” ungkap pria 25 tahun ini.

Dora Sambega merupakan judul sendratari Kabupaten Bantul yang diasuh Tri Anggoro, dengan menampilkan empat tokoh topeng dalam alur ceritanya yaitu Jati Pitutur, Pitutur Jati, Putri Tamioi dan Lembu Amiluhur. Dora Sambega menceritakan tentang syaimbara yang di gelar oleh raja yaitu Lembu Amiluhur untuk mencarikan suami bagi putrinya, akan tetapi sang raja ingkar janji.

“ Memang banyak kesulitan menari dengan topeng, dari segi pengelihatan aja udah beda kalau pakai topeng gak bisa lihat depan cuma bisa lihat ke bawah, jadi harus pakai insting dan feeling. Selain itu keseimbangan memakai topeng juga perlu ekstra ” Ungkap Ratri yang merupakan salah satu penari. Ia berharap pemakaian topeng di sendratari terus diadakan, agar penari terbiasa menari dengan topeng dan bisa mengasah penjiwaan karena tidak semua penari bisa menggerakan topeng agar terlihat hidup. Sekaligus melestarikan seni topeng yang sudah jarang di munculkan.

Tari topeng memang sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan, mengingat banyaknya kesenian di negara ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda sekarang. Potensi budaya yang dihasilkan oleh keanekaragaman masyarakat Indonesia merupakan sebuah aset berharga bagi kehidupan berbangsa. (Widya Iga Kusuma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: