Apresiasi Terhadap Karya Anak Bangsa

 

 

“Nandur Srawung” merupakan sebuah pagelaran seni yang menampilkan karya seni rupa yang berasal dari berbagai macam kalangan. Tema yang diusung pada pagelaran kali ini ialah mengenai karya anak bangsa yang akan dikenalkan kepada masyarakat. Acara tersebut dilaksanakan mulai dari tanggal 17 Oktober sampai dengan 23 Oktober 2016.
Tahun ini merupakan tahun ketiga Pameran “Rupa – Rupa Seni Rupa ; Nandur Srawung” tersebut dilaksanakan di Taman Budaya Yogyakarta. Pagelaran seni rupa tersebut sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Seniman yang mengikuti pagelaran pada tahun ini berjumlah lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya seniman yang mengikuti “Nandur Srawung” sebanyak 600 orang, maka pada tahun ini seniman yang mengikuti acara tersebut hanya berjumlah 580 orang. 

Seni rupa yang ditampilkan pada pagelaran kali ini, kurang lebih bejumlah 170 karya yang dibuat oleh para seniman yang mengikuti pagelaran tersebut. Dalam setiap karya, seni rupa yang ditampilkan pada pagelaran tersebut, dikerjakan oleh 8 orang seniman.  Seniman yang ikut serta pada “Nandur Srawung” kali ini sangat beragam. Mulai dari seniman hingga anak – anak muda yang masih menduduki bangku sekolah, serta mereka yang berasal dari kalangan disabilitas. 

Keikut sertaan kalangan disabilitas membuat “Nandur Srawung” kali ini berbeda. Kalangan disabilitas yang mengikuti pagelaran tersebut ialah murid – murid SLB dengan berbagai latar belakang yang berbeda, seperti tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, dan penderita autisme. Selain dari kalangan disabilitas, para seniman juga tidak hanya berasal dari Yogyakarta, melainkan juga dari Pulau Jawa. Seni rupa yang ditampilkan pada “Nandur Srawung” kali ini tidak hanya seni lukis, namun juga patung, serta wayang.

“Pagelaran seni rupa nandur srawung kali ini benar – benar mengapresiasi sih kalau buat saya pribadi. Apalagi setelah saya ngeliat karya – karya seni lukis yang ternyata dibuat oleh anak – anak disabiitas. Itu luar biasa,” ujar Bara, salah seorang pengunjung yang turut menikmati karya para seniman “Nandur Srawung”

Apresiasi Seniman 

Suharyatno yang kerap disapa Yamiek merupakan ketua panitia dari acara “Nandur Srawung”. Beliau juga merupakan seorang seniman ternama dikota Yogyakarta. Tujuan Yamiek membuat “Rupa – Rupa Seni Rupa ; Nandru Srawung” ialah berawal dari keresahannya melihat para perupa pada saat ini serta ingin menyatukan para perupa yang berada Indonesia terutama di Yogyakarta dan kota lainnya. 

“Tujuan saya sederhana sebenarnya, saya cuman mau menyatukan perupa yang punya karya. Di “Nandur Srawung” ini saya menerima perupa dengan bentuk apa saja karna memang tujuannya adalah menyatukan para perupa,” ungkap Yamiek, ditemui di Taman Budaya Yogyakarta. Yamiek juga menyebutkan alasan keikut sertaan para seniman “Nandur Srawung” dari berbagai macam kalangan. Hal tersebut didasari oleh pemikirannya yang mengatakan bahwa semua orang itu bisa menjadi seniman, terlepas dari latar belakang orang tersebut. 

“Nandur Srawung” juga menjadi sarana untuk menyadarkan masyarakat bahwa kerusakan didunia terjadi karna ulah manusia. Selain itu juga, “Nandur Srawung” merupakan tempat yang untuk menyalurkan hasil karya para seniman yang tidak diterima dipagelaran seni ternama di Kota Yogyakarta. Hal tersebut juga mendukung Yamiek untuk mengadakan “Rupa – Rupa Seni Rupa ; Nandur Srawung”.’

“Acara ini menjadi wadah bagi para seniman yang benar – benar mengapresiasikan sebuah maha karyanya. Acara ini juga dibuat untuk memamerkan karya yang tidak diterima dipameran seni lainnya,” ujar Yamiek.

Harapan Seniman

Selaku ketua panira “Rupa – Rupa Seni Rupa ; Nandur Srawung”, Yamiek memiliki harapan yang cukup besar kepada para seniman – seniman saat ini. Melalui pameran seni ini, Yamiek mengatakan bahwa karya yang dipamerkan oleh para seniman – seniman “Nandur Srawung” tidak diperjual belikan. Hal itu juga menjadi harapan Yamiek agar para seniman – seniman muda tidak menjadikan karyanya untuk memperoleh keuntungan finansial. 

“Harapan kecil sih sebenarnya dari “Nandur Srawung” ini, saya cuman berharap seniman yang ikut serta dalam pameran ini tidak memperjual belikan karyanya. Tapi kalau diluar pameran ini sih terserah mereka aja,” ungkap Yamiek.

“Selain itu sih sebenernya juga ga besar – besar harapannya. Ya, saya cuman berharap semua seniman Indonesia tidak berhenti berkarya. Saya gak bisa bilang semua seniman harus seperti Affandi atau seniman – seniman lainnya. Yang penting tidak berhenti berkarya saja.” Lanjut Yamiek. (Febrielina Done)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: