Seniman Tanpa Tanda Jasa


 

​Pernyataan guru tanpa tanda jasa mungkin juga berlaku dibidang yang satu ini. Seni, karya yang mempunyai banyak prspektif karena lahir dari ide-ide gila sang penggagas. Hal-hal gila inipun lahir dari seorang Drs, Suharyatno atau yang akrab disapa Yamiek. Lelaki kelahiran 2 Desember 1958 ini adalah penggagas dari Nandur Srawung.

 

Kecintaan nya pada senipun sudah mengantarkan pameran ini hingga putaran yang ketiga ini. Yamiek yang sedari kecil sudah mencintai seni, sudah mengeluarkan banyak karya baik dalam pameran nasional maupun internasional. Ide-ide nya pun sangat spontan, karena lahir dari pengamatan sehari-hari juga dari jejak masa lalunya.

 

Seni sudah menjadi darah daging baginya. Ia sangat menyukai seni Arsi yang merupakan gabungan dari seni patung, lukis, dan grafis. Sehingga saat ditanya, lelaki yang juga seorang PNS ini mengaku bahwa ia menyukai semua bidang seni. Kecintaan nya pun membuahkan karya yang sempat booming ditahun 90an yang berjudul Cula. Karya yang dibuat dari pohon mati ini pun sampai menjadi bahan tiruan para seniman lain. Tapi hal ini justru tidak menyulut emosi Yamiek.

 

“Saya sih ga marah kalau ditiru, asalkan yang niru bisa lebih bagus daripada saya. Berarti kan karya saya itu bagus” Ujar Yamiek.

 

Sikap tidak suka marah juga menjadi salah satu ciri kha dari Yamiek ini. Sebagai seorang abdi dalem Keraton Jogjakarta, ia sangat mengemban falsafah Jawa. Ia pun juga menyampaikan jika marah hanya membuang-buang energi saja. Kehidupan yamiek yang seorang seniman, akan berubah jika ia sudah akan mengemban tugasnya menjadi abdi dalem. Ia akan berpakaian Jawa rapi dan melepas anting-antingnya.

 

“Pak Yamiek emang tidak suka marah kalau bekerja. Selama kenal pak Yamiek 4 tahun saya kerja bareng dia juga ga pernah dimarahi” Kata Gegen salah satu rekan kerja Yamiek di pameran Nandur Srawung.

 

Walaupun kerap diperjual belikan, tapi Yamiek masih menyimpan karya-karya yang hanya menjadi koleksi pribadinya. Ia berkata kalau karya ini tidak akan dijual kepada siapapun dan berapapun harganya. Salah satu karya yang tidak dijual itu berjudul Perjalanan Hidup. Sosok yang sangat mencintai Ibunya ini, mengangkat sosok sang Ibu dari mulai sehat, menuju sakit hingga saat sang Ibu tiada. Memori dan sejarah yang membuat Yamiek mempertahankan karya yang dibuatnya sampai 3 tahun ini.

 

Ke spontanitasan Yamiek ini sangat menjadikan ia beda dari seniman-seniman lain. Ia tetap menjaga keutuhan bahan karya yang ia pakai seperti pada karya nya yang berjudul Lingga Yoni. Karya yang menggambarkan perwujudan alat kelamin pria dan wanita ini ia dapatkan setelah pencarian yang membutuhkan waktu 1 tahun ini.

 

Hal seperti kespontanitasan dan kealamian ini yang membuat Yamiek sering disebut gila bahkan aneh oleh orang-orang sekitar. Ia sampai dikejar-kejar oleh pembuat pameran besar dan terkenal di Jogjakarta untuk mengajaknya pameran. Tetapi Ia menolak karena perbedaan visi diantara para pembuat Pameran besar.

 

“Orientasi Mereka hanya uang dan bisnis saja” katanya tegas saat disinggung mengenai ketidak ikutsertaan ia.

 

Alasan ini yang melatarbelakangi Yamiek dalam membuat pameran Nandur Srawung. Ia menampung para seniman yang tidak diterima di pameran besar milik teman nya, juga menjadikan pameran itu sebagai wadah bagi para seniman yang tetap berkarya tetapi tidak mempunyai modal untuk membuat pameran sendiri. Subsidi di Nandur Srawung bahkan diberikan kepada seniman yang berasal dari berbagai lapisan di kota Jogja ini. NADYA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: