Berseni Tak Harus Seni, Proses dan Makna yang Utama

Seniman identik dengan karya seni. Seolah apapun yang mendapat sentuhan mereka, selalu

menjadi lebih bernilai dan indah. Seperti yang dilakukan oleh 580 Perupa yang menampilkan hasil tanganya di Taman Budaya Yogyakarta pada acara “Nandur Srawung” 21/10 silam. Keramah-tamahan jogja yang mereka coba sampaikan di setiap karya seninya merupakan wujud “srawung” dari seluruh peserta.

Makna srawung sendiri dalam bahasa Jawa ialah keramahan. Terlebih lagi mereka semua berasal

dari berbagai wilayah dan kalangan. Ada perupa yang berasal dari luar daerah Jogja. Ada pula yang berumur anak-anak, dewasa, hingga perupa usia lanjut. Yang menarik ialah ketika anak-anak autis dan divabel turut serta dalam pameran karya yang rutin diadakan setiap tahun ini. Mereka seolah mematahkan pandangan khalayak tentang keterbatasan yang terlihat pada fisik mereka. Padahal jauh dibalik semua itu, mereka bak kuas kecil yang mampu menari bebas diatas kanvas lukis seorang mahakarya. Perbedaan yang tampak justru akan membuat sebuah lukisan tampak lebih menarik, tak terkesan monoton.

Anak-anak divabel ini mampu mengekspresikan apa yang ada difikiran mereka. Dan lagi, meski

bersama dengan pendamping mereka, mereka tetap dibebas karyakan sesuai suasana hati mereka. Warna, bentuk dan kesesuaian komposisi hasil karya mereka tampak indah berdiri tegak di ruang eksebisi.

Ketika masuk di luar ruangan eksebisj kita disambut bangunan-bangunan seni yang berdiri kokoh.

Masing masing dari bangunan memiliki filosofi tersendiri. Bangunan pelepah kelapa misalnya, dibangun dengan pelepah usang berwarna gelap dan ditambah fosil buatan yang memiliki makna telah matinya kepekaan manusia akan alam sekitar.

Dilanjutkan ketika masuk ke dalam tampak dekorasi indah nan apik tergantung di dinding. Lukisan

berbagai tema, berwarna-warni memenuhi ruangan seakan memanjakan pandangan. Hasil berbeda oleh berbagai perupa menambah khasanah keilmuan tentang apa itu seni sebenarnya. Abstraksi, permainan warna, dan maksud tertentu dari perupa ialah arti seni dari Suharyatono alias Yamiek selaku ketua eksebisi tahunan ini.

1.JPG

Banyak pihak turut bergabung dalam pameran “Srawung Nandur” kali ke-3 ini. Tak terkecuali

pemerintah yang sangat mendukung dan mengapresiasi para seniman Jogja. Dana istimewa yang digelontorkan pemerintah DIY nampaknya telah dipergunakan dengan sangat baik oleh para penyelenggara kegiatan positif ini. Harapannya dari diadakannya eksebisi kali ini ialah untuk tetap memupuk dan menyadarkan arti penting seni bagi masyarakat luas. Termasuk pengetahuan tentang seni dan yang pasti untuk dinikmati masyarakat luas agar tak terhegemoni dengan pergaulan konser, kebiasaan ricuh dan sebagainya. Tifani Octavia Leksono 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: