Nandur Srawung, Menciptakan Karya Melalui Kebersamaan

3.JPG

 

Pameran seni rupa bertemakan ‘Nandur Srawung’ yang artinya menumbuhkan kebersamaan, diadakan kembali di Taman Budaya Yogyakarta mulai dari 16 hingga 23 Oktober 2016 lalu. Pameran tersebut adalah gabungan dari beberapa karya seni berupa seni rupa, seni lukis, seni tari dan berbagai pertunjukan dan penampilan seni lain nya. ‘Nandur Srawung’ sendiri rutin diadakan setahun sekali di Yogyakarta. ‘Nandur Srawung’ diadakan mulai akhir tahun 2013 dan sudah berjalan 3 periode hingga saat ini.

Acara ‘Nandur Srawung’ diikuti oleh 580 seniman yang diantara nya 103 difabel (peyandang cacat/autis) sebagai pembuat karya, penari, dan pendukung acara lain nya. Selain penyandang difabel, peserta yang mengikuti acara ini juga terbuka untuk kalangan umum, ada dari kalangan pelajar, dan komunitas seniman. Komunitas seniman yang bergabung juga beragam, ada yang dari dalam kota hingga luar kota Yogyakarta.

 

Seni rupa yang dipamerkan berbagai macam tipe, salah satu nya adalah seni rupa berbentuk patung yang dibuat berbagai bentuk menyerupai manusia yang menjulang tinggi. “Jika satu patung ini biasanya di buat hingga delapan orang, dalam kurun waktu yang sudah ditentukan”, kata Suharyatno, selaku Ketua Panitia acara ‘Nandur Srawung’ tersebut.

 

‘Nandur Srawung’ pun dibuka dengan Gendhing Jawa, alasan tetap digunakan nya budaya tradisional Jawa dalam acara ini adalah ‘nguri-uri kabudayaan jowo’ atau yang biasa diketahui melestarikan kebudayaan Jawa tersebut.  “Bisa dibilang acara ini sangat bagus, menampilkan berbagai macam karya seniman yang tidak hanya dari Jogja, tetapi juga dari luar daerah yang belum saya ketahui. Dan uniknya, diantara mereka ada beberapa penyandang difabel yang juga ikut berpartisipasi di acara ini”, Kata Eko Wahyu sebagai salah satu pengunjung pameran tersebut.

 

Perkembangan dunia seni telah banyak mengubah karakter seni secara keseluruhan, Mulai dari banyaknya karya seni dari para seniman pemula, hingga cara publikasi dan pameran seni yang semakin banyak. Munculnya komunitas-komunitas seniman juga merupakan wujud baru dari sebuah kemajuan dunia seni. Sepertinya contoh seni rupa, karya seni ini selalu memiliki peminat setia sama seperti karya seni lain nya, peminat tidak akan pernah surut karena karya akan terus menerus dibuat dan dibentuk. “Saya sendiri sangat senang menjadi ketua panitia acara ini, yang saya harapkan kedepannya adalah acara ini dapat terus berjalan setiap tahun nya, menjadi acara regenerasi turun temurun seniman dan pembuat karya seni lain nya”, pungkas Suharyatno. Rustia Dania Putri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: