Dari Taman Kanak-kanak, Hingga Coffee Shop

 

12495943_10207580212377727_5667557118161037381_o.jpg

 

Dimas Rangga Satria Ilham, pemuda yang akrab disapa Dimas ini lahir di Kediri, 10 Januari 1991. Pemuda yang dulu pernah mengikuti Paskibraka Se-Jawa Timur ini, sedikit “membanting stir” dari jurusan kuliah yang ia ambil yaitu teknik industri Universitas Gadjah Mada, menjadi barista kopi dan memiliki sebuah coffee shop sendiri. Berawal dari hobi Dimas dan sahabatnya yang sudah bersama sejak duduk dibangku Taman Kanak-kanak (TK) yaitu dari tahun 2009 hampir setiap hari nongkrong di coffee shop tersebut dan akhirnya coffee shop nya tutup , ditambah lagi dengan masalah skripsi yang tak kunjung selesai, mereka bertiga memutuskan untuk membuat satu buah coffee shop yang banyak diminati orang khsususnya anak-anak muda. Dengan modal yang diperoleh dari orangtua mereka, tiga orang sahabat ini pun membangun sebuah coffee shop yang mereka beri nama “Blanco Coffee & Books.”

“Blanco Coffee & Books” , sudah berdiri hampir 2 tahun dan saat ini, Dimas memang hanya disibukkan dengan kegiatannya di coffee shop, selain sebagai pemilik coffee shop tersebut, Dimas dan 2 orang sahabatnya tidak juga menjadi bebas dan tidak bekerja sama sekali, justru mereka juga ikut andil dalam kerjaan di coffee shop tersebut, dengan menjadi barista, menjadi waiters dan hal-hal lainnya.

 

Perubahan terbesar setelah menjadi owner sebuah coffee shop?

Perubahan yang sangat terasa, yang pasti itu dari pengalaman dan penghasilan. Dulunya masih sering minta uang bulanan sama orang tua, justru sekarang lebih sering transfer ke orang tua walaupun tidak dengan jumlah nominal yang besar dan orangtau saya tidak minta. Ya, itu tadi kalau untuk pengalaman yang pastinya mempunyai pengalaman dalam bidang bisnis seperti ini, adanya proses jatuh bangun dan kendala-kendala dalam membangun sebuah coffee shop. Kita juga jadi ngerti, keluh kesah pegawai yang bekerja di sebuah cafe gitu, misalnya ada pengunjung yang sudah waktunya tutup tapi masih asyik ngobrol padahal sudah waktunya tutup. Tapi seperti yang saya bilang tadi, pengalaman dan penghasilan itu perubahan terbesar, karena untuk saya pribadi basic saya awalnya bukan di bidang ini, karena saya kuliah juga dijurusan teknik industri kan. Gitu deh, pokoknya.

 

Apa titik balik dari saat jatuh bangun tersebut, sehingga menjadi kuat seperti sekarang?

Awalnya kita kan hanya hobi nongkrong saja, lalu kemudian karena cafe yang sering kita datangin itu tutup, saya dan 3 orang sahabat saya itu punya ide buat membangun cafe yang sama seperti tempat kita nongkrong dulu. Proses jatuh bangun yang kita hadapi mungkin tidak seberat yang orang pikir kok, pertama kita hanya kesulitan di modal awal, karena kita anak kuliahan dulunya dan masih diberi uang saku sama orangtua, jadi kita masih kesulitan. Saat itu kita bertiga ingin nabung, tapi itu pasti membutuhkan waktu yang cukup lama. Akhirnya, kita minta modal kepada orangtua. Nah, itu juga tidak langsung dikasih, karena awalnya orangtua kita merasa ragu. Tapi, karena kita terus ngeyakini orangtua kita, akhirnya mau juga ngasih modal. Kalo saya pribadi, berkaca pada situ saja. Proses yang sulit seperti itu, saya jadikan kaca buat saya untuk bercermin, bahwa saya sudah berani membangun ini dan meminjam uang dari orangtua ya saya harus teruskan, walaupun banyak kendala-kendala, karena saya yakin pasti kendala tersebut bisa kami atasi bertiga.

 

Tapi, apakah sempat berpikir untuk menyerah saja? dan tidak melanjutkan bisnis ini?

Seperti yang saya katakan tadi, karena udah dikasih modal oleh orangtua dan orangtua juga mendukung, selama itu positif. Tidak ada alasan untuk kami bertiga menyerah dalam membangun coffee shop tersebut.

 

Apakah blanco coffee & Books, akan membuka cabang?

Sampai saat ini sih kita belum kepikiran, soalnya pasti butuh biaya lagi hehe. Tapi, kita pasti bakal membuka cabang, dan cabang yang kita buka hanya disekitaran Jogja – Solo, karena kita mengejar eksklusivitas. Kita mau blanco hanya ada di Jogja, seperti bakpia kan itu cuma ada di Jogja, nah kita maunya Blanco juga seperti itu. Walaupun sampai sekarang, saya pribadi masih mencari tahu apa perbedaan blanco dengan coffee shop lainnya, hehe.

 

Untuk saat ini, apakah akan berfokus pada coffee shop saja atau ingin mencari pekerjaan lain?

Kalau saya pribadi, masih mondar-mandir mencari pekerjaan lain. Tapi, untuk blanco sendiri tidak saya tinggalkan, itu tadi saya ingin Blanco menjadi semakin besar. Dari orangtua saya juga, sudah menyuruh saya untuk tinggalin Blanco dan cari pekerjaan lain karena katanya kurang menjanjikan dan nanti bisa bangkrut, tidak balik modal dan lain sebagainya. Tapi saya mencoba memberi pengertian dan mereka pun akhirnya mengerti, walaupun menurut saya apa yang orangtua saya katakan ada benarnya juga. Jadi, sekarang saya juga udah mulai mencari pekerjaan lain, tapi Blanco tidak saya tinggalin loh mbak, hehe.

 

Nah, untuk hal bekerjasama, kalian kan bertiga ini berteman sejak TK. Apakah masih ada konflik atau perbedaan pendapat dalam bekerja?

Haha, itu sih pasti ya. Apalagi kita bertiga laki-laki semua, kalau udah berdebat ya gitu deh mba. Contohnya, awal-awal kita mau membangun Blanco, kan kita mencari tempat, itu tergolong mudah sih, karena kita langsung ketemu tempat dan bangunan yang pas untuk Blanco ya di daerah Tugu ini kan, tapi 1 teman saya ini kurang begitu suka sama tempat ini, lalu kita berdebat lumayan lama. Tapi, karena satu teman saya lagi melerai dan menjadi jalan tengahnya, akhirnya kita putuskan untuk tetap mengambil tempat ini. Tapi, untuk sejauh ini sih kita belum pernah berdebat sampai “adu otot” dan lain sebagainya, karena kita dari zaman TK udah bareng, eh sampai sekarang. Jadi, udah tahu satu sama lainnya, lebih saling mengerti aja.

20151215_215744.jpg

 Apa harapan Anda untuk Blanco ke depannya?

Kalau dari aku pribadi, harapannya ya pasti ingin Blanco lebih besar dari sekarang, untuk hal cabang yang seperti aku bilang tadi itu pasti untuk sekitaran Jogja aja. Dan aku berpikiran Blanco akan tetap di Jogja, tapi yang kita kirim atau jual hanya kopi nya saja, itu pikiran saya, ya saya kurang tahu teman-teman saya bagaimana. yang pasti Blanco harus dan akan lebih besar dari sekarang, Aamiin. Rustia Dania Putri – 153140167

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: