“Ryan Anggara, Sang Pelukis Pelangi bagi Gepeng di Dinginnya Jalanan” 

Tergeletak, lemah tak berdaya, hidup hanya dari belas kasihan orang lain. Kehidupan gelandangan inilah yang sekiranya setiap hari dilihat oleh mantan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ryan Anggara. Meski kasihan, tetapi mau bagaimana lagi. Hidupi diri sendiri saja masih belum mampu, tangannya masih senantiasa mengulur pada orang tuanya. Iapun bingung dan gundah, lantas bagaimana kegelisahannya dapat terobati jika terus seperti ini? Berangkat dari rasa empati yang terus menyiksanya, akhirnya Ryan begitu sapaan akrabnya memutuskan untuk membantu semampunya kepada mereka yang membutuhkan. Sebungkus nasi atau bahkan sisa uang receh yang dimiliki selalu disisihkan demi dapat menyantuni pihak yang membutuhkan.

Dirinya tak ingin dikata pamrih, apalagi sombong. Ia hanya melakukan semampunya demi menghadirkan pelangi bagi mereka-mereka yang senantiasa dirundung badai. Ya, badai perekonomian yang tak kenal ampun bagi penderitanya. Ryan mengaku tak perlu berfikir kritis jika negara masih krisis. “Satu pihak bilang mengemis itu pekerjaan pemalas. Ya, memang malas bagi mereka yang punya peluang tapi tak segera diambil. Lantas bagaimana dengan mereka yang tak punya pilihan dan segudang kesempatan? Menjadi pengemis atau gelandangan sama sama memalukannya. Bukan ingin menjadikan seluruh warga sebagai pengemis, tapi disamping kita mengkritik bolehkah kita mengambil aksi nyata dengan menyantuni dan sekedar memberi mereka makan malam? Entah, mungkin itu merupakan hal biasa bagi kita, tapi mereka makan malam ialah sajian mewah yang tak setiap hari bisa didapat. Sekiranya begitulah pandangan pria berdomisili asli Yogyakarta ini. Disaat banyak pihak menyuarakan untuk anti “gepeng” beliau malah berusaha membangun relasi dengannya.

“Toh duit gak dibawa mati kan, yang dibawa cuma amalan kita selama didunia” ungkapan tegas yang mengetuk hati oleh lelaki yang dulunya berstudi ekonomi ini. Meski dirinya sadar dalam hukum ekonomi bahwa usaha dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendatangkan keuntungan sebanyak-banyaknya saat ini sudah tidak lagi relevan. “Berbagilah selama kau mampu, maka kemampuan akan selalu bersamamu” ujarnya.

Disaat kawan-kawan lainnya bertaruh demi mendapat pekerjaan, dirinya tetap konsisten dalam menjalani kegiatan sosial ini, tentu dengan tetap berusaha mencari pekerjaan. “saya sambilan juga, sambil cari kerjaan. Tapi untuk sedekah masa harus tunggu kalo udah dapet kerjaan dulu” guraunya saat diwawancarai di Alfamart Hayam Wuruk sesaat sebelum membagikan makanan kepada gepeng. (20/12)

Hingga kini, kegiatan sosial STMJ (Sedekah Tiap Malam Jumat) yang dijalankannya telah tumbuh dan berkembang selama 3 tahun. Masyarakat yang bergabung juga tidak bisa dibilang sedikit. Sudah banyak pula masyarakat yang malang telah ia payungi kebutuhan makannya. Yang ia fikirkan hanya satu, jika kita bisa makan 3-4 kali di restaurant berbeda selama sehari, bagaimana mungkin tak terketuk hatinya untuk memberi makan malam bagi mereka yang sedang kesusahan. (Tifani Octavya 153140066)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: