Tumpukan Baju Bekas, Rupiah Tanpa Batas

 

Jogjakarta merupakan salah satu daerah dengan laju perekonomian yang semakin tahun semakin meningkat. Pemilik usaha kecil dan menengah dituntut untuk terus kreatif dalam inovasi bahan, dan proses pemasaran. Karena target pasar yang cukup banyak dan beragam tentu para wiraswasta berusaha untuk konsisten dalam setiap proses ekonomi yang mereka lakukan. Tak  terkecuali lahan bagi mereka, pedagang “awul-awul” atau busana bekas.

fani

“Awul-awul” ialah lahan usaha baru bagi pengusaha busana bekas dengan kualitas baik yang saat ini semakin naik daun. Image barang bekas yang selalu mendapat cap rendah, lambat laun berubah menjadi trend fashion anak muda Yogyakarta. Terlebih kehadiran awul-awul ini tidak dapat ditemui di hari-hari biasa. Mereka hanya akan membuka lapak ketika pasar malam “Sekaten” diselenggarakan. Tepatnya pada bulan Maulid (bulan dalam Islam).

 

Kehadirannya yang tidak terus menerus membuat branding awul-awul semakin membuat konsumen penasaran. Sehingga setiap kehadirannya pasti akan ramai dikunjungi. Mulai dari sekedar penasaran, hingga benar-benar berburu barang bekas yang masih berkualitas. Tak tanggung-tanggung demi mendapat barang incaran dengan brand mentereng, para konsumen rela mengacak-acak tumpukan baju bekas yang menggunung. Disamping itu Muhammad Igo selaku pemilik awul-awul ini juga memudahkan pembeli dengan mengkategorikan busana sesuai dengan model pakaian. Seperti blouse, jacket, dan kaos-kaos. Pembeli juga dituntut untuk lebih jeli dalam memilah. “Jika sedang beruntung, malah bisa dapat merk Uniqlo, Gap, Lee Cooper. Kan lumayan untuk tambahan koleksi baju branded, mana cuma setengah harga” ujar Hannifa salah seorang customer awul-awul.

 

Bahkan, jika ditinjau dari aspek ekonomi. Pelaku bisnis awul-awul tidak dapat dipandang sebelah mata. Omzet perharinya bisa mencapai 2juta dan itu juga telah bersih dari biaya pegawai. Biaya tambahanpun disediakan untuk pegawai yang mampu menjual barang lebih dari target sebagai reward. Selain itu yang membuat awul-awul ini menjanjikan  ialah kontak kerja dengan pegawai yang bersifat borongan (sekali banyak). Meskipun hanya dapat membuka lahan pada waktu-waktu tertentu, Igo selaku pemilik usaha awul-awul mengaku memiliki strategi dalam penjualan busana agar tetap mendapat omzet yang maksimal.

 

“Dari hari pertama saya kasih harga 8ribu /potong karena pembeli masih ramai-ramainya. Untuk hari selanjutnya saya kasih 10ribu /potong dan di akhir saya naikan sampai 15ribu /potongnya” pungkas Igo. Ia merasa dengan menaikan harga dapat menjanjikan laba yang lebih tanpa takut intensitas pengunjung menurun. Meskipun toko asal awul-awul ini berada di Parakan, Wonosobo. Igo dan pegawainya mengaku senang dan ingin selalu ikut serta dalam acara pasar malam Sekaten. “Disamping bisa memperluas pasar, disini  juga dapat menambah pundi-pundi omzet yang lebih” pungkasnya.(Tifani Octavia Leksono 153140066)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: