OPINI : Atribut Natal Dan Toleransi

Setiap tahun pada bulan Desember ditanggal 25, diseluruh penjuru dunia, pemeluk agama Kristen, baik Protestas, Maronite, Katolik, Orthodoks, dan Kristen lainnya merayakan perayaan besar, yang dikenal dengan hari Natal. Berbagai macam acara, baik kebaktian menjelang natal, perlombaan menjelang natal, hingga aksi – aksi sosial menjelang hari Natal, turut dilaksanakan. Hal tersebut dilakukan ketika suatu perayaan besar akan tiba. Perayaan besar dengan lahirnya Yesus Kristus ke dunia, yang menjadi kepercayaan umat Kristiani, dan juga dipercaya membawa terang damai bagi seluruh umatnya diseluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia.
Hal yang akan kita temukan ketika natal ialah pernak – pernik yang terbuat dari kertas minyak berwarna, dan dibentuk sedemikian menarik. Selain itu, pohon terang, orang – orang menyebutnya sebagai pohon natal yang turut dihiasi oleh lampu kecil kelap-kelip, yang akan membuat pohon terang itu semakin terlihat indah.

Sejak tahun 2014, Istana Negara turut dihiasi pohon natal, yang pada tahun- tahun sebelumnya tidak pernah terlihat ada. Hal tersebut kemudian memunculkan perdebatan oleh kalangan pengemukan agama di Indonesia.

Akhir – akhir ini, kembali muncul perdebatan dari beberapa pengemuka agama tentang larangan penggunaan atribut natal di tempat – tempat umum yang memasang atribut natal. Salah satunya pohon natal serta larangan penggunaan topi santa claus. Atribut – atribut natal tersebut akan terlihat diberbagai tempat – tempat umum, khususnya pusat perbelanjaan yang ada di kota – kota besar.

Satu pertanyaan yang mungkin tidak memiliki jawaban, “Apakah ada yang salah dengan atribut perayaan natal ? jika salah, dimana letak salahnya ?”. Pertanyaan tersebut muncul seiring dengan terjadinya beberapa kejadian di kota – kota besar, terkait pemeriksaan tempat – tempat perbelanjaan yang memasang atribut natal. Mengingat Indonesia merupakan Negara yang majemuk dan pluralisme yang dipuji karena kerukunan, tetapi didalamnya malah terjadi perpecahan pada toleransi beragama. Miris bukan.

Bukan berbicara tentang sebuah larangan pemakaian atribut pada seorang pegawai yang berkerja di tempat – tempat umum. Tetapi lebih kepada mengapa muncul sebuah fatwa yang mengharamkan pemakaian atribut tersebut. Memang, apakah definisi haram itu sendiri?.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas perbedaan dalam pandangan agama dikehidupan masyarakat Indonesia. Tetapi, hanya ingin menyampaikan sebagaimana pemahaman terhadap toleransi yang dijaga didalam kehidupan, di Negara demokrasi dan pluralisme ini. Dilihat dari kehidupan beragama, masyarakat Indonesia damai serta rukun, pihak pemerintah pun memperlakukan kaum mayoritas serta minoritas dengan perlakuan yang sama. Tidak ada pembeda sedikitpun.

Indonesia merupakan sebuah Negara yang memiliki 6 agama yang sangat beragam. Indonesia juga memiliki Pancasila serta Bhineka Tunggal Ika yang sangat menekankan toleransi antar umat beragama. Tetapi masih saja sering terjadi perpecahan, saling mencaci, saling mendewa – dewakan, bahkan saling menggurui layaknya Tuhan, dan mengatasnamakan kebenaran. Sungguh ironis negeri ini. Dimana letak toleransi nya jika semua umat beragama seperti itu perilakunya. Bagaimana seorang Gusdur tidak dirindukan, jika selalu terjadi hal seperti itu. Almarhum Gusdur dikenal sebagai Bapak yang memberi kebebasan kepada umat beragama untuk menjalankan agamanya sesuai dengan kepercayaan masing – masing.

Apakah pemahaman tentang sebuah ‘toleransi’ sudah dipahami secara baik di Negara tercinta ini, jika melihat sering terjadinya konflik agama? Hal tersebut bukanlah disebabkan oleh ajaran agama, tetapi lebih kepada “oknum” yang menjadi provokator negative, sehingga sering terjadi perpecahan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Atribut natal selalu menjadi pertanda adanya masyarakat pemeluk agama Kristian yang akan merayakan natal di bulan Desember. Tetapi, atribut natal juga menjadi sebuah simbol toleransi yang ada di Indonesia. Bahkan mungkin, tidak hanya atribut natal saja yang menjadi simbol toleransi, tetapi atribut – atribut yang ada pada saat hari raya besar umat beragama lainnya.

Hendaknya, lewat atribut natal tahun ini atau bahkan nanti untuk tahun – tahun selanjutnya, tidak ada pertikaian antar umat beragama, khususnya di Indonesia yang dikenal dengan Negara yang menjunjung tinggi rasa toleransi. Sebuah atribut yang ada pada hari raya bukan alasan untuk memecahbelahkan umat beragama di muka bumi ini. Agama bukan merupakan ‘tameng’ yang dapat dijadikan alasan ketika muncul sebuah konflik, karena seharusnya, agama lebih dari pada itu. agama merupakan jembatan untuk saling menghargai ditengah perbedaan yang ada dan merupakan hal yang membawa damai antar umat beragama. (Febrielina Done-153140039)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: