DR. Basuki Agus Suparno “Meniti Karier dari Bawah”

Pernah menjalani kehidupan sebagai pedagang kantong plastik, distributor gula pasir, loper koran dan pedagang di gerbong kereta tak menyurutkan semangat Basuki Agus Suparno untuk meraih gelar doktor dan meraih kesuksesan dalam karier.

83506_basuki_agus_suparno_663_382

Mau Mampu Ahli

Basuki Agus Suparno, digariskan melewati kehidupan masa kecil yang berat. Pindah ke Jakarta, tidur dibawah meja dalam rumah sewa 3×4 meter . Bergaul dengan orang Betawi, membawanya bekerja di pasar Kramatjati sebagai pedagang kantong plastik dan membawakan belanjaan pengunjung dari tengah pasar ke parkiran untuk mendapat sejumlah uang.

Menurut anak kedelapan dari sembilan bersaudara ini, semua orang bisa meraih gelar doktor asal orang itu mau mewujudkan apa yang ingin diraih. Mau berpayah payah lalu mau fokus.  Seseorang bisa menjadi doktor asal mau membuktian kemauannya sehingga mampu lalu menjadi ahli. Jika orang tidak mau, maka ia tidak akan menjadi mampu. Ayah dari dua anak ini sangat menekankan bagaimana kemauan seseorang akan mampu mengubah kehidupan.

 

Pendidikan itu penting

Pikiran bahwa pendidikan itu penting tidak datang dari dalam diri Basuki sendiri. Meski orang tuanya secara ekonomi tidak mampu, tetapi memiliki tekad dan semangat yang kuat untuk menyekolahkan 9 anaknya. Sang ibu berjualan sedangkan ayahnya berkerja sebagai buruh. Kedua orang tua Basuki berharap anak-anaknya semua sekolah minimal dijenjang SLTA. Seluruh saudara pun berusaha untuk sekolah.

“Kakak  ke 3 sekolah dengan cara menarik grobak sampah dan menjadi kuli bangunan. Kakak perempuan ke 7 bekerja memasak ikut tetangga. Alhasil tidak ada dari 9 bersaudara yang tidak sekolah. Dengan meihat keadaan tersebut Basuki pun menyadari bahwa pendidikan itu penting.” Ujarnya ditemui di Kampus II UPN Veteran Yogyakarta.

Pergaulan semakin menyadarkan pria asal Sragen ini bahwa pendidikan itu penting. Keikutsertaan dalam Pelajar Islam Indonesia (PII) membuat Basuki aktif dalam kegiatan pengajian. PII menghadirkan mahasiswa-maasiswa dari barbagai universitas ternama di Indonesia antara lain UGM dan ITB. PII menggambarkan  bagaimana dunia dan menggambarkan pendidikan. Melalui PII Basuki menyadari bahwa seorang muslim harus memiliiki kemampuan intelektual yang bagus dinegeri ini karena pendidikan bagian dari perjuangan dan bagian dari ibadah.

“ Ternyata orang-orang yang cara berfikirnya hebat dan punya mimpi-mimpi itu adalah orang-orang yang tertempa dengan pendidikan” lanjutnya. Menurut pengalaman Basuki, tempat favorit dan tempat yg bagus belum tentu menjadi habitat yang tepat. Sekolah dimanapun  seseorang harus punya prinsip. Sekolah yang bagus belum tentu orangnya juga bagus.

Baginya pendidikan membuat seseorang tahu bagaimana cara memecahkan problematika kehidupan dan menggunakan pendidikan sehingga bermanfaat dengan orang lain karena pendidikan itu mempunya nilai manfaat. “Pendidikan  itu merupakan kebutuhan bukan kewajiban. Dengan pendidikan kita  itu jadi tau bagaimana cara memecahkan masalah. Orang yang memiliki pendidikan pun kadang-kadang tidak mampu mengendalikan atau membatasi apa yang inginkan.” ujar pria kelahiran 6 Mei 1971.

“Pendidikan yang tinggi dapat mencegah hal-hal yang tidak baik. Kadang-kadang orang yang berpendidikan  tinggi tetep saja  melakukan perbuatan yang tidak baik,itu berarti pengetahuannya tidak bermanfaat” lanjutnya.

Loper Koran dan Mahasiswa

“Belajar itu bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja” ujar pria yang saat ini mengajar dikonsentrasi advertising . Selain menjalani hari-hari sebagai mahasiswa, Basuki muda bekerja sebagai loper  koran . Setelah berjualan dikereta selesai lalu meluangkan waktunya untuk belajar dipojok gerbong. Basuki juga belajar disore hari seusai berjualan dan saat menunggu kereta datang. Terkadang bekerja sebagai loper Koran membuatnya datang terlambat  mengikuti perkuliahan. Untuk mengejar ketertinggalan Basuki biasa bertanya pada temannya.

“ Belajar yang baik itu belajar yang member kesadaran dan memberi pencerahan. Sesuatu yang baru memberikan kesegaran. Saya mengerti bahwa saya harus berubah, salah satu cara untuk berubah dengan pendidikan.” lanjutnya.

Hidup dalam Pengharapan

Ketaatan pada ajaran agama membuat Basuki selalu hidup dalam pengharapan. Nilai-nilai ajaran agama memberikan banyak pelajaran dalam kehidupan Basuki. Hidup seseorang selalu melewati sebuah proses. Ada masa sulit dan ada masa yang penuh dengan kemudahan.  “ Kalau  kita berpegang pada ajaran itu kita menjadi kuat, tangguh, tidak cengeng, tidak gampang bermelan kolis tapi kita itu menjadi kuat menghadapi hidup” ujarnya

“Saya tidak pernah merasa putus asa” tegasnya. Selama mengikuti ajaran dari PII, Basuki meyakini bahwa dirinya hebat meski tidak memiliki apa-apa dan hidup dalam kesulitan, tetapi Basuki memiliki kepercayaan yang tinggi. Basuki pernah mengalami krisis dalam kehidupan tetapi krisis-krisis ini yang mengubah cara pandang dan kematangan emosional seorang Basuki Agus Suparno.

Di Mata Mahasiswa

Sosok Basuki Agus, menjadi teladan bagi banyak orang. Pembawaan yang bersahaja dan kesabaran ketika mengajar, membuatnya dikenal sebagai dosen yang sangat baik. Kholid Arofi adalah salah satu mahasiswa yang memiliki pengalaman diajar oleh Basuki.

“Pak Basuki baik, kalau mengajar sangat pintar dalam menguasai materi. Salutnya waktu sedang mengajar, tidak kelihatan seperti menggurui. Pembawaannya santai, kadang waktu mengajar diselipi nasehat-nasehat kehidupan” ungkapnya saat ditemui di Lab Audio Visual Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta. Maya Arina P/153140018

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: